PELANGI YANG HABIS BATRAI


PELANGI YANG HABIS BATRAI


Malam dingin menyelimuti seisi kotaku, berbanding terblaik dengan perasaan ku yang hangat menerima keberadaan mu yang belum pernah kurasaakan sebelum nya. Memang tak aakan menggantikan kehangatan didekat teman dekat atau sahabat. Tapi sesaat setelah aku menunggu 1 minggu dikota budaya ada perasaan yang harus kusampaikan. Melihatmu tersenyum selalu terbayang akan indahnya ciptaaan tuhan dan terimakasihku pada orang tuamu yang melahirkanmu dengan kesederhanaan. Jika mampu dinominalkan dengan uang kamu tak akan terbiang namun sacral dirawat , diperhatikan jengka lipatan demi lipatan sebuah uang kertas kuno.
Kesan unix yang kau pancarkan dan perhatian serta kedewasaan mu membuatku jatuh hati, ketika kuajak jalan jalan untuk memulai mengisi salah satu ruang hatimu membuatku yakin akan sebuah kenyamanan. Tidak perlu hal hal yang hedonism, zaman tapi hanya berdua dengan mu yang saat itu aku pendam sesaat menanti waktu yang pas. Malam minggu menjadi warna tersendiri menyibak kekalutan ku selama ini yang hanya putar putar kota gak jelas dengan teman teman yang menghabiskan waktu malam ditepi jalan raya dengan secangkir kopi. Kehadiranmu seakan memeluk erat kesunyian hatiku akan kasih sayang selain orang tua. Bukan secara trah namun kita coba ciptakan sendiri kasih sayang itu lewat angkringan pinggir jalan yang jujur aku ciptakan kesederhanaan yang tak kusangka kita setipe.
Satu bulan tak perlu waktu lama first love aku ungkapkan, aku yakin akan hal itu. Namun cara ku mengungkapkan kuarang jantan , dan terkesan masih seperti main main. Kuakui dan persilahkan dia menila ku seperti apa. Namun aku memang tak sepandai para pujangaa merangkai kalimat, tak semenarik desainer yang apik mengemas seisi rumah menjadi dekorasi indah nan mantap dipandang. Aku hanya orang biasa yang coba merasakan cinta pertama. Saat itu menjadi indah ketika dia mengucapkan kata yes. Lega rasanya, saat itu memang kau seolah menjadi orang yang paling dia ngertiin paling ia perhatikan dan paling sering menhubungi nya.
Aku mulai berandai dan merangkai sebuah masa depan yang dilalui anak muda, yang dibangun dengan jerih payah. Namun saat ketika lagi mau memperjuangkan diaat pernah ia mengalami kesulitan dan reflek aku juga merasakan aku meninggalkan segalanya demi dia. Demi menjadi super hero saat itu. Tak perlu piker panjang ketika aku khawatir ketika dia mengalami masalah. Dan dialah type orang yang suka diperhatikan. Walau awal mula dulu kita kenalan dan bertemu aku selau cuek karena namanya memang bukan terlintas dialam bawah sadar, dan saat itu dia menjalani keharmonisan dengan pacarnya dan agak tertutup , yang membuatnya tak pernah terlintas dibenak lelaki manapun.
Belakangan aku dejavu pada hal yang tak terduga ketika dia mau jalan bersama mantannya, saat itu ia ijin untuk jalan sebenarnya. Aku bimbang harus apa, mau melarang ia belum resmi jadi kekasih ku . karena ia hanya menerima hatiku. Dan ku persilahkan tanpa kekangan mau jalan dengan siapapu walau secara alamiah pasti cemburu. Namun aku pernah menjawab ketika ia bertanya “jika aku masih jalan sama mantan , yang mana ia jadi teman baik ku sekarang, apa kau akan cemburu? ”. aku jawab tidak, malah aku bertaruh pada jawaban ku untuk tetap menjalin tali silaturahmi, semua orang punya histori masing-masing. Tak mencintai bukan utnuk membenci. Karena ia tau mantannya dulu sudah dekat dengan wnita lain.
Semua kawan dekatku tau akku lagi dekat dengan siapa, dan seakan menjadi kenyataan apa yang kuimpikan terjadi, ia jalan denngan mantannya dan mangubar kemesraan lewat media social. Sepertnya saat itu aku mulai merasa seperti anak alay yan gmengukur kadar kerharmonisan dari media social, bukan kepercayan. Aku klarifikasi dia dan kenapa itu kau lakukan ? apakah kau ingin memanasi ku  ? menguji kesetiaan ku, yang saat itu lagi sayang sayang nya. Semua nasihat orang terdekatku bicaraa, bodoh kamu. Mau mau nya aja diinjak harga dirimu. Saat itu mataku mulai terbuka lebar lewat pandangan orang terdekatku. Tanpa aku punya sanggahan yang kuat saat itu aku belum siap untuk gelisah dan sakit.
Dan putus. Hari hariku kembali kemasa dimana jalanan , angkringan , dan sahabat menyeimutiku ditengah kota terkukup keheningan malam dan masa depan yang berbelok tajam. Sebuah kisah yang aku ungkapkan lewat tulisan dan kucurahkan lewat do’a yang terbaik untuk nya. Tak pernah terfikir untuk balas dendam, dan aku akui ketika aku mengalami kekecewaan aakan lama waku sembuhnya. Yang ku yakini jalan ku tak terhenti disitu, belok arah tajam bukan berarti berakhir. Kita hanya perlu istirahat sebentar, emnghirup udara segar dan mencium bibir botol air mineral. Terima kasih untuk 1,5 bulan dan semua keindahan yang kau bagikan padaku. Utnuk mu cinta pertamaku dan teman baikku yang tak kulupa dan menjadi untaian kenangan yang pernah hadir dikehidupan ku. Dan terimakasih atas kecewa yang kau ciptakan dan permainan yang kau buat, aku belajar arti kesabaran dan belajar bahwa saling menguatkan dan saling berkorban menjadi kunci sebuah hubungan. .

The end. . .

Komentar