PELANGGAM TUA
Siang itu kudapati seorang berperawakan jawa tulen
dengan nada bicara meminta ijin ibuku untuk mengamen , dan sedikit melantunkan
sebuah, duabuah lagu dikala terik ternya panas. Waktu itu mereka, ya kukatakan
mereka karena berdua ini sepasang suami istri yang wadon/ istri nya menyanyi diiringai seorang suami dengaan keprigelannyya
memainkan gendang. Ada beberapa lagu yang mereka mainkan, caping gunung, gubuk asmoro, kalau tidak salah sekitaar ada 4-5
lagu.
Kuketahui dari ibuku ini kedua kalinya mereka melintas
untuk sekedar leren/ istirahat
diteras rumahku, dulu pertama ia datang berpakaian agak lusuh, memainkan 2 bauh
lagu dan waktu itu pengakuan ibuku melihati mereka iba, pernah terfikir untuk
sedikit berbagi kasih dan rejeki pada mereka jikalau malintas lagi dikemudian
hari. Dan siang itu mereeka datang dengan semangat memainkan lagu yang menjaadi
ciri khas orang jawa.
Dibalik candela dalam rumah kudapati mereka dan mulai
mendengarkan lantunan irama sampai habis lagunya, disela sela lagu berikutnya ibuuku mengajak ngobrol
dengan mereka. Belakangan kutahu mereka berasal dari wates , ngawi – jawa
timur. Jauh –jauh daari tempat asal untuk mengais sedikit rejeki dan salah
seorang yang tetep berpegang teguh pada keyakikan dengan kesederhanaan dan
keprigelan yang mereka bisa, sebagai pelestari budaya dikala carut marut dan
banyak nya aliran music yang masuk dinegri ini.
Dulu , tepatnya dua tahun yang lalu pengamen ini
sebernarnya sudah berkecukupan untuk menjalani hari dengan membuka warung
kelontong, namun musibah menimpa sang istri ketika ia kedapati kedua matanya
tidak bias melihat. Beliau bingung , karena kabarnya cukup mengagetkan ditengah
keharmonisan hidup yang mereka jalani , walau kutahu dari mereka yang ditinggal
ke tiga anak kandungnya untuk hidup dengan pasangan meereka. Hal yang pada saat
itu ia harus legowo menerima
kenyataan.
dan itulah hidup berubah drastis , dan harus
memikirkan bagaimana menghasilkan uang selain berwirausaha. Dan saat itu
mengemen mejadi pilihan. Agak aneh juga derita kebutaan ini menimpa si ibu ini.
Tanpa ada proses yang menjadikannya menjadi buta, tau tau langsung tidak mampu
melihat dalam beberapa waktu tertentu. Dan mereke dengan tabah menjalani, pola
kesederhanaa dan legowo nya membuatnya tetep bahagia walau terkadang air mata
keluar ketika mengingat kejadian demi kejadian waktu silam.
Yang aku cuplik dari pembicaraan mereke begini “geh tiang ten dunyo niki reni-reni bu, pak.
Kulo boten pados nopo-nopo, geh dilakoni mawon sak titah e, geh nek wonten rejeki
alhamdulilah , nek mboten geh kulo wangsul. ” dalam bahasa Indonesia nya
“ya namanya orang didunia itu berbagai macam bentuk pak, saya tidak mau mencari
apa apa. Ya dilakukan saja sebisanya, sedapatnya. Kalo memang yang maha kuasa
memberi rejeki ya saya syukuri kalo tidak ya kami pulang”.
Ibuku bilang apa tidak sebaiknya tidak diulik dan cari
tahu siapa pelaku yang berbuat seperti ini, beliau menjawab. “Tidak usah bu,
biar allah yang membalas. Toh siapa yang menanam bakal ia tuai sendiri”. Yang
ibu ini maksud dia iklas menerima kenyataan ini sebagai cobaan dari yang maha
kuasa, tak pernah terbelsit untuk menuduh siapa pelakunya. Ia malah intropeksi
diri, akan dosa ketika ia diberi anugrah kedua mata yang kompllit, mungkin akan
lain , dia akan terbuai dengan duniawi dan menjadi tak realistis lagi memaknai
hidup. Dengna kondisinya sekarang , ia lebih banyak bersyukur.
Kami hanya bisa memberi mereka makan dan teh, dan
mendoakan keselamatan dan panjang umur untuk mereka semangat menjalani hidup.
Tetap lah pada sifat kau sekarang bu, pak. Kelak akan kau dapati hikmah nya
seperti apa. Tinggal tunggu saja. Ibuku mempersilahkan jika pas mampir untuk
tinggal dirumah ku sebelum pergi lagi ngamen ditempat lain, seperti yang
dilakukan tetanggaku mempersilahkan tinggal dirumahnya. Dianggap saja kami
saudaramu, dan harus begitulah adanya ketika kita menganggap siapapau sebagai
saudara kita.
Sebuah pesan dan tamparan moral ditengah kebiadaban
revolusi dunia. Yang muda makin malas, mendapatkan sesuatu secara intsan, perampokan, pencurian, korupsi
dll. Serta memusnahkan masa depan sedini mungkin, pelecehan seksual, narkoba, miras,
pembunuhan dll. Dan perlahan mulai tergerus arus globalisasi yang tak siap
menerimanya. Padaha kita punya identitas sebagai Negara dengan keberagaman
budaya, yang harus dijaga dan dilestarikan. Serta sebuah kebahagiaan yang
hakiki dicipkatakan hanya dari sebuah kesederhanaa, legowo narimo ing
pandhum, dan selalu berfikiran jernih apapun yang terjadi didunia ini kita
hanya bertujuan mendekatakan diri pada yang maha kuasa dengan diselingi
aktivitas apapun agar hidup menjadi berwaran.
Termikasih pak, buk atas kehadiran kalian waktu itu
mampu membuka mata hatiku paling dalam, ternyata masih ada orang orang hebat
seperti kalian. Terimakasih sudah repot – repot mampir kerumah ku
Komentar
Posting Komentar